Dharmayatra dalam Agama Buddha

Artikel Buddhis. Pengetahuan dan pengalaman lapangan bagi untuk kegiatan ritual sangat penting guna meningkatkan saddha/sradha (keyakinan). Keyakinan sebagai dasar umat Buddha bukan hanya dalam pemahaman konsep. Wujud nyata yang dapat dilakukan salah satunya dengan pelaksanaan kegiatan dharmayatra. Pengetahuan yang diperoleh selama dharmayatra merupakan sarana untuk pembelajaran. 

Dharmayatra adalah salah satu bentuk ritual yang berkembang dari kebutuhan umat dalam memberikan kesempatan menghormati tempat-tempat yang disucikan atau disakralkan. Tempat yang disucikan atau disakralkan tersebut terdapat beberapa hal yang melatarbelakangi, diantaranya makam orang-orang suci, tempat menyimpan relik para arahat atau para suci, tempat bersejarah dalam perjalanan hidup Buddha, tempat bersejarah dalam pembabaran Dhamma, dan candi-candi. Hal tersebut dapat dijadikan motivasi bagi umat dalam mempraktekkan Dhamma serta meningkatkan pengetahuan mengenai nilai-nilai spiritual Buddhis dalam kehidupan sehari-hari. Hendaknya kita memiliki tujuan dharmayatra yang baik diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Meningkatkan pengetahuan terhadap tempat-tempat yang disakralkan dalam agama Buddha;
  2. Menumbuhkan keyakinan dalam melaksanakan Dharma;
  3. Mewujudkan kader generasi muda khususnya umat Buddhis yang berkualitas dalam membimbing umat dalam melaksanakan Dharma;
  4. Menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai pentingnya nilai-nilai luhur peninggalan bersejarah;
  5. Turut melestarikan cagar budaya.
Dasar Dharmayatra dalam Agama Buddha
Kegiatan dharmayatra merupakan mengunjungi objek-objek yang di sakralkan dan sebagai wujud penghormatan terhadap peninggalan-peninggalan bersejarah dalam agama Buddha. Kegiatan ini juga untuk meningkatkan motivasi umat Buddha agar selalu berbuat kebajikan. Adapun dasar-dasar yang mendasari kegiatan dharmayatra adalah dasar yuridis dan teologis.

Dasar Historis Dharmayatra
Mengunjungi tempat-tempat ajaran Sang Buddha pada masa pemerintahan Raja Asoka telah dikenal. Ariyakumara (2013: 62) mengungkapkan bahwa:
Pada tahun keduapuluh masa pemerintahannya, Raja Asoka mengunjungi tempat kelahiran Pangeran Siddharttha di Lumbini dan membangun pagar serta pilar batu untuk menandai kunjungannya ke tempat tersebut, Taman Rusa Isipatana dekat Benares dan tempat Sang Buddha parinibbana di Kusinara. Kota Savatthi dan Vesali yang sering disinggahi Sang Buddha juga menjadi tujuan kunjungan Raja Asoka.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada masa Raja Asoka kegiatan mengunjungi tempat-tempat ajaran telah dilakukan dan dipelopori oleh seorang pemimpin. Hal tersebut dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada ajaran Sang Buddha. Sebagai seorang pemimpin yang memberikan pengaruh besar terhadap rakyatnya Raja Asoka tidak hanya mengunjungi tempat-tempat suci melainkan dengan membangun pilar serta berdana kepada rakyat sekitar tempat-tempat suci ajaran Sang Buddha.

Dasar Teologis Dharmayatra
Secara teologis dharmayatra mengacu pada sabda Sang Buddha yang terdapat dalam kitab Petikan Milinda Panha “Hormati relik dari mereka yang patut dihormati.  Dengan bertindak demikian engkau akan pergi dari dunia ini ke surga” (Pesala, 2002: 100). Menghormat orang yang patut dihormati tidak hanya dilakukan ketika masih hidup. Dalam hal tersebut peninggalan-peninggalan agama Buddha yang disakralkan merupakan objek untuk melakukan penghormatan.

Dasar Filosofis Dharmayatra
Kegiatan dharmayatra sangat penting untuk dilaksanakan. Begitu banyak manfaat melaksanakan kunjungan ke tempat-tempat suci yang ada hubungannya dengan Sang Buddha. Hal tersebut sesuai dengan ajaran Sang Buddha, seperti petikan pada Mahaparinibbana Sutta yaitu “Ananda, bagi mereka yang berkeyakinan kuat melakukan ziarah ketempat-tempat itu, maka setelah mereka meninggal dunia, mereka akan terlahir kembali kealam surga” (Walshe, 2009: 243). Kekuatan keyakinan seseorang ketika mengunjungi objek-objek bersejarah yang di sakralkan dalam agama Buddha akan membuat batin menjadi tenang serta terlahir di alam surga.

Sejarah Obyek Dharmayatra Umat Buddha di Indonesia (Provinsi DIY dan Jawa Tengah)
Candi Sari
Candi Sari terletak sekitar 10 KM dari pusat Kota Yogyakarta. Tepatnya candi ini berada di Desa Bendan, Kelurahan Tirtamartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi Sari bercorak agama Buddha. Candi Sari dibangun pada abad VIII M pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, bersamaan dengan masa pembangunan Candi Kalasan berdasarkan Prasasti Kalasan (700 Saka / 778 M) (http://candi.pnri.go.id/temples/deskripsi-yogyakarta-candi_sari,). Candi Sari dan Candi Kalasan memiliki banyak kemiripan, baik dari segi arsitektur maupun reliefnya. Candi Sari merupakan bangunan suci untuk asrama pendeta Buddha. Bukti bahwa Candi Sari sebagai asrama pendeta Buddha terlihat dari bentuk keseluruhan bagian-bagian bangunan dan dari bagian dalamnya yang memiliki ruangan (berdasarkan observasi pada tanggal 1 Juni 2015).

Candi Sewu
Candi Sewu terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Candi Sewu letaknya berdekatan dengan Candi Prambanan. Candi Sewu diperkirakan dibangun pada abad VII atas perintah penguasa Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran (746-784 M) dan Rakai Pikatan. Berdasarkan Prasasti Manjusrighra yang ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dan berangka tahun 792 Saka (http://candi.pnri.go.id/temples/deskripsi-jawa_tengah-candi_sewu).

Candi Plaosan
Candi Plaosan terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, kira-kira 1,5 KM ke arah timur dari Candi Sewu. Candi ini bercorak agama Buddha yang terbagi menjadi dua, yaitu Candi Plaosan Lor dan Kidul. Pahatan yang terdapat di Candi Plaosan terdapat kemiripan dengan Candi Sari dan Candi Sewu dengan adanya ruangan di dalam candi.

Candi Plaosan diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu, yaitu pada awal abad IX M. Pendapat lain mengenai pembangunan Candi Plaosan adalah dibangun sebelum masa pemerintahan Rakai Pikatan. Menurut Anggraeni, yang dimaksud dengan Sri Kahulunan adalah ibu Rakai Garung yang memerintah Mataram sebelum Rakai Pikatan (http://candi.pnri.go.id/temples/deskripsi-jawa_tengah-candi_plaosan).

Candi Borobudur
Candi Borobudur terletak di Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur merupakan Candi bercorak agama Buddha dan terbesar di dunia. Lokasi Candi Borobudur yang merupakan bukit kecil dikelilingi oleh pegunungan Menoreh, Gunung Merapi, Merbabu Sumbing, dan Sindoro. Berdasarkan pendapat para ahli candi ini mulai dibangun pada masa pemerintahan raja-raja Wangsa Sanjaya sekitar tahun 780 M hingga masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra (http://candi.pnri.go.id/temples/deskripsi-jawa_tengah-candi_barabudhur). Candi Borobudur berdiri di atas bukit yang memanjang arah timur-barat. Candi ini disusun rapi tanpa perekat seperti yang terdapat di Candi Kalasan dan Candi Sari. Candi ini berbentuk limas bersusun dengan tangga naik. Relief-relief di Candi Borobudur yang menceritakan kehidupan lampau Sang Budha serta para petapa lainnya. Bangunan Candi Borobudur terdiri dari tiga tingkatan, yaitu; Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Setiap tingkatan memiliki relief-relief tersendiri, dan sampai saat ini Candi Borobudur telah mengalami beberapa kali pemugaran.


Referensi:
Ariyakumara. 2013. Asoka: DhammaCitta Press.
Pesala. 2002. Petikan Milindha Panha. Klaten: Wisma Meditasi Dhammaguna.
Walshe, Maurice. 2009. Khotbah-khotbah Panjang Sang Buddha Digha Nikaya. Terjemahan oleh Team Giri Mangala Publication, dan Team DhammaCitta Press: DhammaCitta Press.