Jubah (Civara) Bhikkhu Theravada

Artikel Buddhis. Kebutuhan pokok para bhikkhu, khususnya jubah sangat penting bagi bhikkhu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Jubah merupakan syarat bagi para bhikkhu untuk mendapatkan penahbisan (upasampadha). Tujuan dari mengenakan jubah hanya sebatas untuk menutupi tubuh bhikkhu dari panas, dingin dan juga agar terhindar dari berbagai gangguan. Gangguan itu bisa berupa gigitan nyamuk, rengit, dan hewan-hewan lainnya. Jubah para bhikkhu memiliki sejarah dari awalnya mengenai bentuk, bahan, bahkan pola jubah. Jubah tersebut tidak mengalami perubahan dari zaman Sang Buddha hingga sekarang khususnya pada tradisi Theravada.

Sejarah awal jubah bhikkhu dahulu hanya berupa sarung saja, tetapi karena hal itu dianggap tidak sopan maka jubah ditambah pada bagian atas kemudian menggunakan jubah luar. Jubah bhikkhu memiliki pola tersendiri, yaitu dengan menggunakan pola Sawah Magadha. Pola Sawah Magadha ini digunakan untuk mempermudah dalam menggunakan jubah dan juga dalam merawat jubah.

Saat sekarang ini banyak umat Buddha yang kurang bahkan belum mengetahui tentang jubah para bhikkhu. Kebanyakan mereka hanya sekadar tahu dan tidak memahami bagian-bagian jubah, makna dalam menggunakan jubah, dan sejarah tentang jubah hingga bisa berbentuk seperti sekarang ini. Hal itu sangat memprihatinkan bagi umat Buddha. Oleh karena itu, penulis menyusun makalah tentang peralatan jubah. Penulis berharap setelah umat Buddha membaca makalah ini, umat Buddha dapat menambah wawasan akan jubah para bhikkhu dengan baik, dan tidak hanya sekadar tahu saja.

Dengan demikian, umat Buddha bisa memahami  kesederhanaan dari jubah bhikkhu. selain itu mengerti akan perenungan penggunaan jubah yang bukan untuk kesenangan dan keindahan,  melainkan hanya untuk menghilangkan dukkha dan melatih hidup sederhana.

Sejarah Jubah (Civara)
Zaman dahulu para petapa biasanya memakai kulit macan loreng, macan tutul, kulit rusa untuk pakaian. Diantaranya ada yang memakai kulit pohon, pakaian dalam dari kain putih, bahkan ada yang telanjang seperti Petapa Jaina.

Sang Buddha melarang para bhikkhu berpakaian secara demikian dan mentahbiskan para pengikutnya dengan memakai jubah yang dibuat dari potongan-potongan kain yang tidak ada nilai ekonominya lagi (pamsukula). Seringkali memakai kain pembungkus mayat.

Kemudian Sang Buddha memberikan kelonggaran dengan mengizinkan para bhikkhu menerima dana jubah atau kain untuk jubah. Akan tetapi, nilai ekonomi dari kain itu harus dihilangkan dengan memotongnya menjadi potongan-potongan kecil  dan kemudian disambung kembali untuk dibuat sehelai jubah. Namun, harus disadari bahwa jubah adalah untuk menutupi badan dari hawa dingin dan panas, untuk melindungi diri dari serangan serangga, dan angin serta untuk menutupi bagian badan yang harus ditutupi yang dapat menimbulkan rasa malu.

Bagian-Bagian Jubah Bhikkhu
Jubah para bhikkhu dan bhikkhuni dalam tradisi Theravada (disini memakai referensi dalam tradisi Dhammayutika Thailand) dianggap tetap mempertahankan pola, dan warna asli sejak zaman kehidupan Buddha Gotama. Terdapat 3 bagian utama jubah, yaitu: uttarasanga, antaravasaka, dan sanghati

Uttarasanga adalah bagian terpenting dan terluar dari jubah para bhikkhu. Biasa disebut juga jubah kashaya. Jubah ini berbentuk persegi panjang, berwarna saffron, panjang sekitar enam hingga sembilan kaki sehingga dapat digunakan untuk menutupi kedua bahu, tetapi sering kali hanya digunakan untuk menutupi bahu bagian kiri sedangkan bahu bagian kanan dan tangan kanan dibiarkan terbuka.

Digunakan didalam Uttarasanga dan dipakai seperti halnya memakai sarung, dililitkan di pinggang dan menutupi lutut hingga separuh betis. Hal ini bertujuan agar tidak mengganggu kaki pada saat berjalan.

Sanghati merupakan jubah ekstra yang bisa digunakan untuk menutupi tubuh bagian atas apabila membutuhkan kehangatan saat cuaca dingin. Tetapi bila tidak dipakai biasanya dilipat kecil dan ditempatkan diatas bahu bagian kiri seperti selendang.

Untuk jubah bagi para bhikkhuni sebenarnya sama seperti di atas, tetapi ditambah 2 bagian lain sehingga terdapat 5 bagian dari jubah seorang bhikkhuni. Para bhikkhuni mengenakan samkacchika (atasan) yang dipakai dibawah uttarasanga sehingga menutupi kedua bahu bhikkhuni. Para bhikkhuni juga dilengkapi dengan Udakasatika (pakaian mandi).

Bahan Jubah Bhikkhu
Untuk bahan jubah diperkenankan mengunakan kain dari bahan seperti; linen, katun, sutra, wol, rami (seperti bahan goni), rami (seperti bahan untuk tali tambang). Hal tersebut diperkenankan untuk digunakan karena bukan terbuat dari  bahan mewah disamping itu mengingat bahan-bahan pada zaman dahulu masih langka maka diperkenankan dari berbagai macam bahan. Selain langka juga kehidupan seorang bhikkhu berlatih untuk hidup sederhana.

Pada zaman sekarang seiring perkembangan kemajuan tekhnologi diperkenakan memakai kain  dari bahan nilon. Bahan nilon yang dipergunakan pun haruslah sederhana tetap mengikuti pola yang telah ditentukan. kain dipotong-potong dijahit membentuk pola sawah Magadha.

Cara Bhikkhu Memperoleh Kain Jubah
Didalam mendapatkan jubah seorang bhikkhu tidak diperkenankan mendapatkan secara berlebihan. Hal itu mengacu pada hal hal sebagaimana di atas melihat nilai ekonomi dari kain tersebut. Kain yang dapat dipakai seperti; kain bungan, ataupun menerima kain dari perumah tangga yang tidak ada nilai ekonominya.

Ada delapan cara untuk mendapatkan kain jubah sebagai berikut; dalam wilayah tertentu, dengan kesepakatan, dengan disertai dana makanan, diberikan kepada sangha, kepada sangha yang telah menyelesaikan vassa, setelah disetunjuk dan untuk perseorangan.

Apabia mengambil kain pembungkus mayat harus memperhatiakan kondisi tubuh mayat dilihat dari suhu tubuh harus dingin, dan membacakan parita pamsukula gatha. Hal tersebut berawal dari kisah terdahulu pada kehidupan Sang Buddha. Ada seorang bhikkhu bermaksud mengambil kain pembungkus mayat tidak memperhatikan keadaan mayat. Bhikkhu terebut mengambil dalam keadaan suhu tubuh masih hangat dan langsung mengambilnya saja. Dari hal itu karena melekatnya makhluk yang teleh meninggal itu terlahir sebagai setan (peta) tidak terima terhadap perlakuan bhikkhu itu, maka peta terus mengganggu bhiikkhu dan Sang Buddha memberitahukan agar membacakan Pamsukula Gatha. Pembacaan parita itu bertujuan untuk memberika perenungan terhadap mayat tersebut agar tidak mengganggu dengan memancarkan cinta kasih.

Melihat sejarah pola jubah dibentuk sedemikian rupa pada awalnya jubah tidak berbentuk berpetak-petak. Sseiring perkembangan agama Buddha pada masa kehidupan Sang Buddha. Banyak orang masuk menjadi anggota sangha. Merekapun terdiri dari berbagai macam kasta, dan jubah yang mereka bawapun berbeda-beda. Dari hal itu menimbulkan perbedaan pada jubah maupun menimbulkan terjadinya tindakan yang tidak diinginkan seperti terjadinya pencurian jubah.

Akhirnya Sang Buddha menyuruh Bhikkhu Ananda untuk membuat pola jubah. Ketika Bhikku Ananda pergi ke puncak tebing hal yang dilihat pertama adalah Sawah Magadha. Maka Bhikkhu Ananda menyampaikan Pola Sawah Magadha untuk pola jubah, dan Sang Buddha menyetujuhinya. Jadilah pola Sawah Magadha.

Cara Bhikkhu Merawatan Jubah
Hal yang harus dilakukan ketika jubah compang-campiing maka harus di tambal. Dalam hal ini ada 5 cara yang diperkenankan untuk memperbaiki jubah dengan menambal, menjahit, melipat, disegel, dan dikuatkan. Adapun hal-hal yang harus disiapkan ketika akan menjahit jubah meliputi; Untuk memotong dapat digunakan pisau atau gunting; Untuk menjahit menggunakan jarum, mesin jahit; Untuk menjaga jahitan tetap selaras diperbolehkan memakai frame yang disebut kathina. Perlu diketahui bahwa asal mula dari hari raya umat Buddha yaitu hari katina berasal dari frame yang disebut kathina. Kathina dipakai untuk membantu agar jubah yang dijahit agar tetap selaras dan rapi. 

Warna Jubah Bhikhu
Warna yang tidak diperkenankan adalah biru, hijau, kuning, merah, merah darah, hitam, jingga, krem. Warna tersebut tidak diperkenankan karen merupakan warna-warna yang mencolok dan pada mulanya warna dasar sendiri adalah warna tanah.

Warna setandar jubah adalah coklat, meskipun akan menjadi coklat kemerahan, coklat kekuningan, dan coklat jingga. Warna coklat ini bisa dikatakan sebagai warna tanah.

Meski saat ini jubah para bhikkhu dan bhikkhuni  memiliki beragam corak dan warna, tergantung dari lokasi geografis dan cuaca setempat. Pada mulanya jubah para bhikkhu/ni di India jaman kehidupan Buddha berwarna saffron (warna oranye kekuning-kuningan) dan terbuat dari “kain murni”. Kain murni disini artinya adalah kain yang tidak dipakai lagi oleh orang lain seperti kain yang telah dibuang, kain sobek/bolong-bolong bekas gigitan tikus, kain beks kelahiran bayi, kain bekas pembungkus mayat sebelum dikremasi, bisa dikatakan kain yang sudah tidak ada nilai ekonominya.

Semua bagian yang tidak dapat dipakai kemudian dibuang,  dibersihkan, dicuci dan dikeringkan sebelum akhirnya diberi pewarna pakaian alami. Caranya jubah yang telah dicuci direbus ke dalam kuali bersama dengan bunga-bungaan, dedaunan, dan saffron yang memberikan warna oranye kekuningan tersebut (saffron – Crocus sativu - sendiri adalah sejenis tanaman yang bermanfaat sebagai bumbu dapur, pewarna alami, dan tanaman obat). Jubah berwarna saffron ini hingga kini masih digunakan oleh para bhikkhu dan bhikkhuni aliran Theravada yang berkembang di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Saat ini jubah para bhikkhu dan bhikkhuni sudah tentu tidak lagi diperoleh dari kain yang dibuang, tetapi dari para umat yang mendanakan jubah, terutama biasanya pada saat perayaan Kathina.

Bahan pewarna dapat menggunakan akar, kayu, kulit kayu, daun, bunga, dan buah. Pada zaman dahulu semua bahan pewarna berasal dai tumbuh-tumbuhan. Hal ini dilakukan dikarenakan masih sederhananya tentang warna, dan merupakan bentuk dari kehidupan yang sederhana.

Pada zaman sekarang pewarna tekstil boleh digunakan. Pewarna tekstil lebih cepat dan lebih mudah didapatkan karena mengikuti perkembangan zaman. Pada masa kehidupan sekarang ini bisa dikatakan pewarna alami sudah tidak lagi pergunakan lagi mengingat kemajuan di era modern dan melihat tingkat keefisiensinya juga.

Seiring dengan perkembangan agama Buddha, jubah bhikkhu (civara) tidak mengalami perubahan. Pola dan bentuk civara masih sama seperti pada zaman Sang Buddha. Civara memiliki bentuk yang sederhana. Cara pemakaiannya mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Jubah digunakan oleh bhikkhu bukan untuk kesenangan bahkan keindahan. Akan tetapi jubah digunakan untuk menutupi tubuh agar terlindungi dari berbagai macam gangguan dari luar. Para bhikkhu melakukan perenungan dalam pemakaian jubah untuk menghilangkan penderitaan (dukkha) dan melatih hidup sederhana. Dengan demikian, pengunaan civara tidak sama halnya dalam penggunaan yang dipakai pada pakaian umat awam yang selalu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman.

Referensi:
Rashid, Teja S.M. 1997. Sila dan Vinaya. Jakarta. Buddhis Bodhi.
Tim Penyusun. 2003. Materi Kuliah Agama Buddha Untuk Perguruan Tinggi Agama Buddha. Jakarta: CV. Dewi Kayana Abadi.
Vajirananavarosasa. 1993. The Entrance To The Vinaya.(Vinayamukha.vol.II). Bangkok: Mahamakat Raja Vidyalaya Press.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Jubah (Civara) Bhikkhu Theravada"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel