Aturan Moralitas Buddhis ke Empat

Artikel Buddhis. Sebagai umat Buddha, pada dasarnya kita harus secara sadar menyatakan berlindung kepada Triratna. Umat awam diharapkan selalu melatih lima aturan Moralitas Buddhis ( Pancasila Buddhis ), sehingga mempunyai kedisplinan yang terlatih dan menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Lima aturan Moralitas Buddhis merupakan latihan tahap pertama dari seseorang yang memasuki kehidupan menurut agama Buddha. Jika kita sebagai umat Buddhis telah disiplin melaksanakan lima aturan Moralitas Buddhis dalam kkehidupan sehari-hari, maka akan terwujudlah manusia yang susila. Manusia susila yang selain menjalankan aturan Moralitas Buddhis, juga dapat berkata, berbat dan bermata pencaharian benar.

Musavada veramani sikkhapadam samadiyami
Aku bertekat melatih diri menghindari ucapan bohong.

Dalam aturan moralitas Buddhis keempat, yaitu musavada yang terdiri dari kata musa dan vada. Kata musa berarti ‘sesuatu yang tidak benar‘ dan vada yang berarti ‘ucapan‘.
Bila digabungkan dapat berarti ‘mengucapkan sesuatu yang tidak benar‘.
Jadi musavada dapat disepadankan dengan kata ‘bohong‘ atau ‘berdusta‘.

Menurut beberapa survei, bukan kerja keras ataupun kecerdasan intelektual yang menjadi kunci utama dalam mencapi kesuksesan hidup, melaikan kejujuran. Kejujuran merupakan faktor penting yang membentuk pribadi seseorang dalam melakukan segala hal. Orang selalu menjunjung tinggi kebenarana dan kejujuran akan selalu dipercaya dan dihormati. Sedangakan orang pendusta akan selalu dijauhi dan tidak dapat dipercaya oleh khalayak ramai dimanapun ia berada. Tujuan dari adanya aturan moralitas Buddhis ini adalah untuk menghindari kata-kata yang merusak nama atau reputasi orang lain.

Setiap orang seharusnya menyampaikan sesuatu hal yang merupakan kebenaran, memakai kata-kata manis dan bersahabat, enak didengar dan lemah lembut serta mempunyai arti yang berguna bagi orang lain. Bila tidak dapat mengutarakan sesuatu yang benar dan berguna, maka lebih baik diam seribu bahasa. Seperti peribahasa, “diam itu emas“.

4 syarat ucapan benar sebagai berikut:
  1. Ucapan itu benar
  2. Ucapan itu beralasan
  3. Ucapan itu berfaedah
  4. Ucapan itu tepat pada waktunya.
Ucapan sering dianggap tidak memberikan efek langsung, seperti halnya tindakan fisik namun bila direnungkan ucapan itu dapat memberikan akibat yang sangat baik ataupun buruk. Pada keadaan yang sekarang serba modern, potensi politik dan negative dari ucapan dapat dilipatandakan dengan pertumbuhan arus komunikasi yang semakin luar biasa. Kemampuan komunikasi yang dimiliki manusia sebagai spsies yang unggul bukan malah menjadi faktor kemerosotan manusia yang sering terjadi.

Secara umum musavada dapat dirfleksikan dengan berbohong. Pantulan yang dihasilkan berupa menghindari diri dari kebohongan, sekaligus juga berusaha untuk mengatakan kebenaran. Berbohong dapat dilakukan melalui ucapan maupun secara fisik, karena dapat dilakukan melalui tulisan aatu dengan membuaat gerakan isyarat dengan tujuan untuk menipu.

Ada 4 faktor yang mnyebabkan kebohongan terjadi yaitu:
  1. Adanya sesuatu yang tidak benar
  2. Memiliki niat untuk menyesatkan
  3. Ada usaha yang dilakukan untuk menyesatkan
  4. Berhasil membuat orang lain menjadi tersesat.
Faktor penentu dari aturan moralitas ini adalah niat untuk berbohong. Satu kata yang kita ucapkan dapat memberikan dampak yang hebat dimasyarakat. Kebohongan yang terjadi secara meluas akan menghancurkan landasan kepercayaan missal dan selanjutnya menjadi tanda keruntuhan solidaritas social menuju akhir dunia. Sekali kita berbohong dan menyadari tanda yang diucapakan sulit dipercaya. Kita akan terdorong untuk terus berbohong demi menjaga konsisten perkataan. Oleh karena itu, proses kesalahpahaman subyektif dapat berasal dari sebuah kebohongan, yang terus menelan habis si pelaku kedalam jurang dustanya sendiri.

Berbohong dapat mempunyai beberapa wujud seperti:
  1. Berbohong secara terang-terangan
  2. Menjilat
  3. Melanggar sumah/ikrar yang telah dibuat
  4. Membuat tipu muslihat
  5. Berpura-pura/munafik
  6. Melebih-lebihkan
  7. Menyembunyikan/mengurangi
Melanggar janji juga merupakan salah satu bentuk kebohongan dengan kondisi tertentu. Hal ini merupakan perbuatan kurang terpuji karena melupakan/kelalaian dalam mengerjakan suatu yang telah disanggupi sebelumnya walaupun tidak ada tujuan untuk menipu pihak kedua pada waktuyang telah ditentukan. Meskipun demikian, hal ini tetap merupakan kebohongan, karena semua bentuk pelnggaran janji selain merugikan orang lain, juga dapat nama baik orang yang melakukannya, sehingga kepercayaan terhadap diri sendiri akan hilang.

Buah karma buruk yang dapat timbul dari berbohong, yaitu:
  1. Menjadi sasaran penghinaan
  2. Tidak dipercaya oleh banyak orang
  3. Menderita akibat pembicaraan yang tidak baik
Dalam kurun waktu latihannya yang panjang dalam kelahirannya kembali yang berulang kali untuk mencapai pencerahan, seorang Buddhis bisa melanggar semua Aturan Moralitas Buddhis keempat, yaitu menhindari ucapan bohong.

Apa sebabnya?

Tidak ada yang tahu secara pasti. Namun komitmen kebenaran mencakup pada lingkup etika dan pemurnian batin, serta membimbing kita pada pengetahuan dan kehidupan kebenaran dalam ucapan memiliki hubungan yang sejajar dengan kebijaksanaan yang muncul akibat kesadaran. Kejujuran dapat menghubungkan sifat diri dengan sifat actual segala sesuatu yang berujung pada kebijaksanaan  terhadap fenomena  yang terjadi. Musavada bukan hanya dapat diartikan dengan berbohong tetapi secara luas mencakup beberapa arti yaitu memfitnah, berkata kasar dan membicarakn hal yang tidak bermanfaat.

Comments