Aturan Moralitas Buddhis ke Empat
![]() |
Ilustrasi: Buddhis Media |
Aturan Moralitas Buddhis ke Empat
Buddhis Media. Sebagai umat
Buddha, pada dasarnya kita harus secara sadar menyatakan berlindung kepada
Triratna. Umat awam diharapkan selalu melatih lima aturan Moralitas Buddhis (
Pancasila Buddhis ), sehingga mempunyai kedisplinan yang terlatih dan menjadi
sebuah kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Lima aturan Moralitas Buddhis
merupakan latihan tahap pertama dari seseorang yang memasuki kehidupan menurut
agama Buddha. Jika kita sebagai umat Buddhis telah disiplin melaksanakan lima
aturan Moralitas Buddhis dalam kkehidupan sehari-hari, maka akan terwujudlah
manusia yang susila. Manusia susila yang selain menjalankan aturan Moralitas
Buddhis, juga dapat berkata, berbat dan bermata pencaharian benar.
“Musavada veramani sikkhapadam samadiyami”
Aku bertekat
melatih diri menghindari ucapan bohong.
Dalam aturan
moralitas Buddhis keempat, yaitu musavada
yang terdiri dari kata musa dan vada. Kata musa berarti ‘sesuatu yang tidak benar‘ dan vada yang berarti ‘ucapan‘.
Bila digabungkan
dapat berarti ‘mengucapkan sesuatu yang tidak benar‘.
Jadi musavada dapat
disepadankan dengan kata ‘bohong‘ atau ‘berdusta‘.
Menurut beberapa
survei, bukan kerja keras ataupun kecerdasan intelektual yang menjadi kunci
utama dalam mencapi kesuksesan hidup, melaikan kejujuran. Kejujuran merupakan
faktor penting yang membentuk pribadi seseorang dalam melakukan segala hal.
Orang selalu menjunjung tinggi kebenarana dan kejujuran akan selalu dipercaya
dan dihormati. Sedangakan orang pendusta akan selalu dijauhi dan tidak dapat
dipercaya oleh khalayak ramai dimanapun ia berada. Tujuan dari adanya aturan
moralitas Buddhis ini adalah untuk menghindari kata-kata yang merusak nama atau
reputasi orang lain.
Setiap orang
seharusnya menyampaikan sesuatu hal yang merupakan kebenaran, memakai kata-kata
manis dan bersahabat, enak didengar dan lemah lembut serta mempunyai arti yang
berguna bagi orang lain. Bila tidak dapat mengutarakan sesuatu yang benar dan
berguna, maka lebih baik diam seribu bahasa. Seperti peribahasa, “diam itu
emas“.
4 syarat ucapan
benar sebagai berikut:
- Ucapan itu benar
- Ucapan itu beralasan
- Ucapan itu berfaedah
- Ucapan itu tepat pada waktunya.
Ucapan sering
dianggap tidak memberikan efek langsung, seperti halnya tindakan fisik namun
bila direnungkan ucapan itu dapat memberikan akibat yang sangat baik ataupun
buruk. Pada keadaan yang sekarang serba modern, potensi politik dan negative
dari ucapan dapat dilipatandakan dengan pertumbuhan arus komunikasi yang
semakin luar biasa. Kemampuan komunikasi yang dimiliki manusia sebagai spsies
yang unggul bukan malah menjadi faktor kemerosotan manusia yang sering terjadi.
Secara umum musavada dapat dirfleksikan dengan
berbohong. Pantulan yang dihasilkan berupa menghindari diri dari kebohongan,
sekaligus juga berusaha untuk mengatakan kebenaran. Berbohong dapat dilakukan
melalui ucapan maupun secara fisik, karena dapat dilakukan melalui tulisan aatu
dengan membuaat gerakan isyarat dengan tujuan untuk menipu.
Ada 4 faktor
yang mnyebabkan kebohongan terjadi yaitu:
- Adanya sesuatu yang tidak benar
- Memiliki niat untuk menyesatkan
- Ada usaha yang dilakukan untuk menyesatkan
- Berhasil membuat orang lain menjadi tersesat.
Faktor penentu
dari aturan moralitas ini adalah niat untuk berbohong. Satu kata yang kita
ucapkan dapat memberikan dampak yang hebat dimasyarakat. Kebohongan yang
terjadi secara meluas akan menghancurkan landasan kepercayaan missal dan
selanjutnya menjadi tanda keruntuhan solidaritas social menuju akhir dunia.
Sekali kita berbohong dan menyadari tanda yang diucapakan sulit dipercaya. Kita
akan terdorong untuk terus berbohong demi menjaga konsisten perkataan. Oleh
karena itu, proses kesalahpahaman subyektif dapat berasal dari sebuah
kebohongan, yang terus menelan habis si pelaku kedalam jurang dustanya sendiri.
Berbohong dapat
mempunyai beberapa wujud seperti:
- Berbohong secara terang-terangan
- Menjilat
- Melanggar sumah/ikrar yang telah dibuat
- Membuat tipu muslihat
- Berpura-pura/munafik
- Melebih-lebihkan
- Menyembunyikan/mengurangi
Melanggar janji
juga merupakan salah satu bentuk kebohongan dengan kondisi tertentu. Hal ini
merupakan perbuatan kurang terpuji karena melupakan/kelalaian dalam mengerjakan
suatu yang telah disanggupi sebelumnya walaupun tidak ada tujuan untuk menipu
pihak kedua pada waktuyang telah ditentukan. Meskipun demikian, hal ini tetap
merupakan kebohongan, karena semua bentuk pelnggaran janji selain merugikan
orang lain, juga dapat nama baik orang yang melakukannya, sehingga kepercayaan
terhadap diri sendiri akan hilang.
Buah karma buruk
yang dapat timbul dari berbohong, yaitu:
- Menjadi sasaran penghinaan
- Tidak dipercaya oleh banyak orang
- Menderita akibat pembicaraan yang tidak baik
Dalam kurun
waktu latihannya yang panjang dalam kelahirannya kembali yang berulang kali
untuk mencapai pencerahan, seorang Buddhis bisa melanggar semua Aturan
Moralitas Buddhis keempat, yaitu menhindari ucapan bohong.
Apa sebabnya?
Tidak ada yang
tahu secara pasti. Namun komitmen kebenaran mencakup pada lingkup etika dan
pemurnian batin, serta membimbing kita pada pengetahuan dan kehidupan kebenaran
dalam ucapan memiliki hubungan yang sejajar dengan kebijaksanaan yang muncul
akibat kesadaran. Kejujuran dapat menghubungkan sifat diri dengan sifat actual
segala sesuatu yang berujung pada kebijaksanaan
terhadap fenomena yang terjadi.
Musavada bukan hanya dapat diartikan dengan berbohong tetapi secara luas
mencakup beberapa arti yaitu memfitnah, berkata kasar dan membicarakn hal yang
tidak bermanfaat.
IKUTI BERITA & ARTIKEL BUDDHIS LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Posting Komentar untuk "Aturan Moralitas Buddhis ke Empat"
Posting Komentar