Sejarah dan Perkembangan Buddhayana di Indonesia

Artikel Buddhis. Buddhayana identik dengan Ekayana, terminologi teknis yang dipakai untuk merujuk dan merangkum pandanagan, aliran ajaran, atau pun pengertian agama Buddha secara keseluruhan, yang menegaskan bahwa kebenaran (Dhamma) satu. Istilah ini dipakai untuk mengikis kekeliruan pandangan bahwa ada banyak agama Buddha yang tercermin dari banyaknya aliran, yang menunjukan kebenaran yang berlainan. Keanekaragaman dipandang Buddhayana bukan menjadi suatu perbedaan. Buddhayana bukanlah sebuah sekte dalam agama Buddha, melainkan agama Buddha itu sendiri.

Buddhayana merupakan perpaduan antara Theravada dan Mahayana. Buddhayana diperkenalkan pertama kali pada kongres WFB (World Followships of Buddhis) di Penng, Malasya 1996. Thai Dharmaduta (1968) diundang mengajar Theravada bagi para Bhikkhu dan Samanera. Pada tahun 1970-an sejumlah samanera belajar Mahayana ke keluar negeri dan menjadi Bhikkhu. Setelah munculnya Sangha Tantrayana pada 1982, maka muncul pengenalan tiga macam kebaktian atau dalam Sagin (MBI) mulai dikenal ada tiga aliran (mazab) dengan kata lain Buddhayana yang tidak mengatas namakan aliran dari masing-masing atau bukan merupakan suatu aliran ataupun sekte yang berdiri sendiri. Ada dua macam pengertian Buddhaya, yaitu: Buddhayana adalah pandangan dengan semangat Non-Sectarian sebagai wahana mempersatukan semua tradisi dalam Agama Buddha; dan Buddhayana bukanlah sekte, melainkan agama Buddha itu sendiri.

Agama Buddha di Indonesia dibangkitkan kembali oleh Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Agama Buddha di Indonesia mulai berkembang dengan berbagai macam aliran. Pada tahun 1979 di Yogyakarta di adakan kongres agama Buddha menghasilkan sebuah wadah Perwalian Umat Buddha Indonesia (WALUBI). Perkembangan dalam berbagai aliran menimbulkan pergolakan dalam agama Buddha hingga terbentuknya Majelis Buddhayana Indonesia (MBI). Buddhayana dinyatakan sebagai perkembangan agama Buddha yang menuju kepada persatuan kembali dari berbagai sekte (Tim Penyusun, 2003: 46).

Tokoh pencetus Buddhayana di Indonesia dalah Bhikkhu Ashin Jinakkhita, sebagai hasil dari usahanya untuk membangkitkan agama Buddha khususnya di Indonesia. Buddhayana sebagai pola pikir yang insklusif di tengah-tengah agama Buddha yang terdiri dari banyak sekte diantaranya Theravada, Mahayana dan Tantrayana. Ketiganya berpegang pada Dhamma ajaran Sang Buddha dan membawa umat Buddha mencapai Nibbana. Bhikkhu Ashin Jinakkhita menyediakan tempat bagi ketiga aliran tersebut untuk berkembang kembali di Indoesia. Gagasan Buddhayana tersebut di dukung dan di ikuti dengan setulus hati oleh ajaran Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) (Tim Penyusun, 2008: 19).

MBI merupakan perkumpulan agama yang menghimpun umat Buddha di Indonesia, yang mengayomi, membimbing, melayani kebutuhan umat Buddha dalam mendukung perkembangan agama Buddha tanpa membeda-bedakan aliran, suku, kebudayaan berdasarkan kitap suci Tripitaka dan keyakinan umat Buddha terhadap Adi Buddha dengan mengembangkan wawasan inter sekte dan kerukunan yang harmonis dalam agama Buddha.

Buddhayana bertujuan untuk mewadahi umat Buddha dari tiga tradisi tersebut dalam satu wadah untuk mencapai suatu perpaduan antara intisari ajaran dengan pola hidup dan kebudayaan seseorang melalui prinsip non-sektarian (Dharmawiranatha).  Ajaran dalam Buddhayana terdiri dari tiga yaitu; Theravada, Mahayana, Tantrayana. Penggabungan dari ketiga aliran meliputi Jalan Mulia Berunsur Delapan untuk mencapai Nibbana (Theravadha); pelaksanaan Paramita untuk mencapai pembebasan penderitaan umat manusia (Mahayana); dan usaha membebaskan diri dari dukkha melalui mudra dan mantra bersifat esoteris dan rahasia sehingga dinamakan “The Secret Doctrine” (Tantrayana). Meskipun ketinganya memiliki perbedaan tetapi ajran-ajarannya memiliki dasar yang sama yaitu berasal dari Buddha Sakyamuni, persamaan ketiganya meliputi; tujuan agama buddha dalah menghapus ketidak tahuan (avidya) dan mencapai akhir penderitaan (Nibbana); Buddha Sakyamuni sebagai guru agung para Deva dan manusia dan menunjukan jalan untuk membebasakan diri dari dukkha; Alam semesta dicengkram oleh Tilakkhana; Hukum Paticca Samuppada; Catur Ariya Satyani; dan Hukum Karma dan Punarbhava.

Buddhayana bertujuan mencapau suatu perpaduan antara intisari ajaran dengan pola hidup dan kebudayaan seseorang. Sumbangan yang dapat diberikan agama Buddha kepada kebudayaan bangsa adalah suatu pendirian non-sekterian, sikap yang mencari harmoni dan kerukunan. Buddhayana tidak bermaksud agar sekte-sekte yang berbeda itu harus lenyap atau melepaskan identitas mereka yang berlainan.

Buddhayana menolak sikap sektarian, yang tidak memiliki toleransi terhadap ajaran dan praktik dari berbagai aliran di dalam agama Buddha selain dari aliran sendiri. Kelemahan sektarian jelas, membatasi wawasan, mempertebal egoisme, menimbulkan kebencian, yang tentu saja akan merintangi kemajuan spiritual (Mukti, 2001: 3-12).

Dalam pengertian Buddhayana, yang juga disebut Ekayana, tiap cara diakui kegunaan dan keampuhannya. Dan itu terlihat dalam berbagai buku yang mencoba mengungkapkan tiga pandangan satu-per-satu, dan membandingkannya  satu sama lain. Tiga pandangan itu adalah Theravada, Mahayana, dan Tantrayana/Vajrayan. Semua aliran (sekte) berada dalam satu jalan Buddha untuk membimbing seseorang menuju Kebuddhaan. 

Buddhayana (Ekayana) menggabungkan aliran Theravada, Mahayana, dan Tantrayana bertujuan untuk mewadahi umat Buddha dari tiga tradisi tersebut dalam satu wadah untuk mencapai suatu perpaduan antara intisari ajaran dengan pola hidup dan kebudayaan seseorang melalui prinsip non-sektarian (Dharmawiranatha).  Tokoh pencetus Buddhayana di Indonesia dalah Bhikkhu Ashin Jinakkhita, sebagai hasil dari usahanya untuk membangkitkan agama Buddha khususnya di Indonesia. Buddhayana sebagai pola pikir yang insklusif di tengah-tengah agama Buddha yang terdiri dari banyak sekte. Semua aliran (sekte) berada dalam satu jalan Buddha untuk membimbing seseorang menuju Kebuddhaan.

Referensi:
Mukti. 2001. Buddhayana. Jakarta: Yayasan Dian Dharma.
Tim Penyusun. 2003. Kapita Selekta Agama Buddha. Jakarta: CV. Kayana Abadi.
Tim Penyusun. 2008. Musyawarah Nasional. Jakarta: Majelis Buddhayana Indonesia.
http://buddhayana.or.id/spirit.php?page=6

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sejarah dan Perkembangan Buddhayana di Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel