Hukum Karma dalam Agama Buddha

Hukum Karma. Anda pasti tak asing dengan kata Karma atau Hukum Karma, bahkan bukan hanya dalam percakapan sehari-hari kata Karma ini digunakan, tetapi juga tidak jarang kata Karma ini ditemukan pada berita media masa, baik itu media elektronik maupun cetak.

Tentu tidak asing bila kata Karma ini digunakan oleh umat Buddha dan Hindu; tetapi sekarang ini kata Karma sering digunakan oleh umat agama yang lainnya juga. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah anda benar-benar memahami maksud dari kata Karma ini? Bila memang anda mengerti, maka penulis ucapkan sadhu untuk anda.

Dalam Nibbedhika Sutta-AN 6.63, Sang Buddha mengatakan bahwa "cetanā (kehendak hati) adalah karma, karena melalui cetanā-lah seseorang melakukan perbuatan melalui pikiran, ucapan, dan tubuh jasmani."

Apakah anda pernah merenung tentang hidup ini? Mengapa ada begitu banyak keanekaragaman dalam kehidupan ini? Ambil contoh saja keanekaragaman manusia, ada yang sehat, ada yang berpenyakitan, ada yang berumur panjang, ada yang berumur pendek, ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang pintar-ada yang bodoh, ada yang cantik-ada yang jelek, dan lain-lainnya.

Ini baru sebagian kecil tentang perbedaan yang anda jumpai pada manusia, bila anda mencoba membuat daftar perbedaan pada semua makhluk, mungkin anda tidak akan pernah selesai membuat daftar tersebut.

Pernahkan terpikir oleh anda mengapa ada begitu banyak perbedaan, apakah semua ini ada yang mengaturnya?

Apakah ada suatu makhluk maha kuasa yang mengatur ini semua?

Bila anda penganut Ajaran Buddha dan mempercayai hal yang disebutkan terakhir, maka anda mempunyai pandangan salah.

Sang Buddha dalam Culakammavibhanga Sutta-MN 135 mengatakan bahwa semua ini oleh Karma (perbuatan) anda sendiri.

Bukan hanya perbuatan masa lalu, tetapi juga perbuatan saat ini; bahkan Karma saat ini jauh lebih penting peranannya, karena dengan karma saat inilah anda dapat menentukan jalan hidup anda.

Untuk lebih jelas bisa lihat Devadaha Sutta-MN 101. Perlu dicamkan, dalam Ajaran Buddha, tidak ada yang namanya Nasib atau Takdir.

Penulis juga tidak berharap anda langsung mempercayai hal yang ditulis di sini karena hal itu tidak akan membuat anda mempunyai keyakinan yang kuat terhadap Hukum Karma ini.

Dalam Ajaran Buddha, bukanlah hal yang salah apalagi murtad bila mempertanyakan sesuatu yang anda belum jelas, belum mengerti, atau masih ragu-ragu.

Selain itu Sang Buddha juga tidak ingin pengikutnya mempunyai keyakinan yang membuta.

Keyakinan yang baik adalah keyakinan yang dilandasi oleh Kebijaksanaan.

Sang Buddha mengungkapkan hal tersebut di Kalama Sutta "Instruksi kepada Kaum Kalama" AN 3.65 ini adalah ringkasannya.

"Adalah hal yang pantas untuk kamu merasa ragu, merasa tidak pasti; karena ketika ada keraguan, ketidakpastian akan muncul.

Maka, Kaum Kalama, jangan percaya hal tersebut hanya karena: sering didengar atau berdasarkan laporan, merupakan legenda(desas-desus), merupakan sebuah tradisi,berada di kitab suci, dugaan berdasarkan logika, didapat berdasarkan kesimpulan, berdasarkan analogi(persamaan), cocok dengan pemikiranku, berdasarkan probabilitas(kemungkinan), atau berpikir bahwa 'Bhikkhu tersebut adalah guru kita. Kaum Kalama, jika kamu sendiri mengetahui bahwa : 'Hal ini buruk, hal ini adalah tercela, hal ini dikecam oleh para bijaksana, ketika dipraktikkan dan diteliti hal ini mendatangkan kerugiaan dan penderitaan, maka tinggalkanlah."

"Adalah hal yang pantas...(sama seperti di atas)...Kaum Kalama, jika kamu sendiri mengetahui bahwa : 'Hal ini adalah baik, hal ini tidak tercela, hal ini dipuji oleh para bijaksana, ketika dipraktikkan dan diteliti hal ini mendatangkan keuntungan dan manfaat kebahagiaan, maka masuk dan berdiamlah di sana (jalanilah)."

Sadhu...3×
Oleh : Bhikkhu Sikkhānanda
Chanmyay Yeiktha Meditation Center
Hmawbi, Myanmar.

Sumber:
Fb Tusita Foundation 兜率天基金会.

0 Response to "Hukum Karma dalam Agama Buddha"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel