Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Mahasiswa Melalui Penerapan Bhaddekaratta Sutta
![]() |
Ilustrasi: Buddhis Media |
Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Mahasiswa Melalui Penerapan Bhaddekaratta Sutta
Akan tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih rendah atau kurangnya motivasi mahasiswa dalam belajar. Banyak ditemukan fakta-fakta mulai dari hal-hal yang terkecil seperti; mahasiswa sering terlambat masuk kuliah, tidak masuk kuliah tanpa alasan yang jelas, malas mengerjakan tugas-tugas kuliah, tidak konsentrasi dalam proses perkuliahan, dan banyak mahasiswa yang ada di dalam kelas akan tetapi tidak memahami materi perkuliahan itu sendiri. Selain faktor-faktor dari dalam diri mahasiswa ditemukan juga dosen yang jarang masuk, serta buku-buku penunjang yang kurang memadai sebagai sumber bacaan maupun materi mahasiswa.
Setiap
mahasiswa pada dasarnya mempunyai dorongan atau penggerak untuk melakukan
kegiatan belajar di perguruan tinggi. Dorongan untuk mencapai suatu tujuan belajar yang akan
dicapainya. Dorongan atau penggerak itulah yang
dikenal dengan motivasi. Salah satu
pendapat dari ahli Suryabrata (1984:70) menyatakan “motivasi adalah keadaan
yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas
tertentu guna pencapaian suatu tujuan.”
Hubungan
antara motivasi dengan belajar, motivasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses dan hasil
belajar yang terletak pada aspek psikologis mahasiswa. Hal
tersebut seperti yang diungkapkan oleh Syah (1995:133) “Banyak faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas
perolehan hasil belajar mahasiswa. Namun, yang lebih
esensial diantaranya: kecerdasan siswa, sikap, bakat, minat siswa dan motivasi mahasiswa”.
Motivasi belajar adalah
keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan
belajar yang menjamin kelangsungan dan yang memberikan arah pada kegiatan
belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat
tercapai.
Secara umum
motivasi itu terbagi menjadi dua, yaitu
motivasi instrinsik dan motivasi ektrinsik. Motivasi dikatakan intrinsik
apabila hal dan
keadaan yang berasal dari dalam diri mahasiswa sendiri yang dapat mendorongnya
melakukan tindakan belajar. Sedangkan motivasi dikatakan ekstrinsik
apabila mahasiswa menempatkan tujuan belajarnya di luar faktor-faktor situasi
belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa diantaranya
cita-cita atau aspirasi, kemampuan, kondisi siswa, kondisi lingkungan,
unsur-unsur dinamis dalam belajar, dan upaya guru membelajarkan siswa.
Motivasi
dapat dikatakan sebagai memegang peranan yang sangat
penting dalam kegiatan belajar bagi mahasiswa. Hal yang
sangat berpengaruh terhadap intensitas kegiatan belajar. Motivasi itu sendiri dipengaruhi
oleh tujuan yang akan dicapai dengan belajar. Semakin tinggi tujuan belajar maka akan semakin besar pula motivasinya, dan
semakin besar motivasi belajarnya akan semakin kuat pula kegiatan belajarnya.
Dalam
khotbah Sang Buddha yang terdapat dalam Majjhima
Nikaya, Uparipannasa Pali, Vibhanga Vagga, Bhaddekaratta Sutta terdapat
poin-poin yang dapat diterapkan dalam meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.
Bila dilihat dari arti kata Bhaddekaratta
berarti seseorang yang memiliki satu kemelekatan yang menguntungkan
sedangkan Sutta berarti khotbah Sang
Buddha. Jadi Bhaddekaratta Sutta merupakan khotbah Sang Buddha yang menguraikan
tentang suatu kemelekatan yang menguntungkan, kemelekatan disini merupakan
kemelekatan pada suatu tujuan yang baik yakni mengembangkan pandangan terang.
Seorang bhikhu hendaknya memiliki
suatu kemelekatan yang bertujuan baik dengan mengembangkan pandangan terang.
Dari
uraian di tas dapat diambil suatu makna dan dapat diterapkan untuk mahasiswa
dalam proses perkuliahan setiap hari. Hendaknya mahasiswa memiliki kemelekatan
dalam arti yang baik yaitu kemelekatan belajar hal yang lebih baik untuk
mencapai tujuan yang diharapkan. Adpun poin-poin yang terdapat dalam Bhaddekaratta Sutta yang dapat diterapkan
dalam meningkatkan motivasi belajar mahasiswa, sebagai berikut:
Tidak Berdiam di Masa Lampau yang Telah Pergi
Menjalani
kehidupan meninggalkan keduniawian (bhikkhu)
hendaknya tidak melekat dengan hal-hal yang telah berlalu. Berpikir
memiliki jasmani (rupa), perasaan (vedāna), pencerapan (sañña) bentuk-bentuk pikiran (sankhāra), kesadaran (viññāna) demikian di masa lalu, dia
membiarkan dirinya untuk menikmati hal itu, ataupun dia tidak membiarkan
dirinya untuk menikmati hal itu. Hal tersebut tidaklah pantas untuk
dikembangkan karena tidak membawa perkembangan dalam kemajuan batin.
Begitu
pula sebagai mahasiswa seharusnya tidak berfikir lagi bahwa dirinya merupakan
pelajar yang masih memiliki kesenangan-kesenangan, menghabiskan waktu untuk
memikirkan kenangan-kenangan seperti halnya di masa sekolah menengah. Berfikir
menghabiskann waktu untuk bermain-main dengan aktivitas yang kurang bermanfaat,
menghabiskan waktu-waktu untuk memikirkan hal-hal yang telah berlalu.
Tidak Mencari-Cari Masa Mendatang yang Belum Dicapai
Menjalankan
kehidupan sebagai bhikkhu hendaknya
menghindari memiliki pmikiran akan memiliki
jasmani, perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, kesadaran, dan dia
membiarkan dirinya untuk menikmati hal itu ataupun tidak membiarkan dirinya
untuk menikmati hal itu. Hal tersebut tidaklah pantas untuk dikembangkan karena
tidak membawa perkembangan dalam kemajuan batin.
Hal yang
sering kali terjadi pada diri mahasiswa pun demikian ketika seorang mahasiswa
dalam proses perkuliahan, mahasiswa sering dihadapkan pada keragu-raguan dan
rasa cemas terhadap pekerjaan yang akan menerima lulusan tersebut. Hal tersebut
tentunya sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar. Ketika lowongan
pekerjaan begitu banyak tentunya mendorong motivasi belajar tinggi, begitu pula
sebaliknya ketika mahasiswa berfikir lowongan kerja semakin sedikit akan menambah
beban pemikiran tersendiri.
Memahami Dhamma Di Dalam Fenomena pang Pada Waktu ini Sedang Terjadi
Alih-alih dengan kebijaksanaan biarlah
dia melihat setiap setiap keadaan yang muncul di masa kini. Biarlah dia
mengetahui dan mayakini hal itu. Tak-terkalahkan, tak-tergoyahkan. Hari ini,
usaha itu harus dilakukan; esok hari kematian mungkin datang siapa tahu? Tak ada
tawar-menawar dengan kematian, yang dapat membuat kematian dan pasukannya
menjauh, tetapi seseorang yang berdiam demikian dengan tekun, tanpa henti,
sepanjang hari, sepanjang malam. Dialah, yang oleh orang suci yang penuh
kedamaian dikatakan. “Orang yang memiliki suatu kemelekatan yang menguntungkan”.
Dari
petikan khotbah Sang Buddha di atas dikatakan bahwa segala susuatu yang
dilakukan saat ini hendaknya dilakukan dengan maksimal. Hal yang terjadi saat
ini merupakan hal yang terbaik untuk dilakukan. Mengingat kehidupan sebagai
seorang bhikkhu melatih meditasi
merupakan hal yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Banyak khotbah-khotbah Sang
Buddha yang menguraikan tentang samadhi. Salah satu khotbah Sang Buddha yang
terdapat dalam Indriyabhavana Sutta. Dalam
Indriyabhavana Sutta menjelaskan
tentang meditasi mengamati landasan indera. Sang Buddha berkata kepada Y.M
Ananda; Wahai Ananda lekaslah engkau bermeditasi untuk melatih konsentrasi.
Dari
urain di atas dapat diambil suatu makna bahwa segala segala sesuatu hal yang
harus dikerjakan saat ini hendaknya dikerjakan dengan semangat. Begitu pula
sebagai mahasiswa bahwa proses kegiatan perkuliahan hendaknya dilaksanakan
dengan semangat. Semangat yang dapat diwujudkan dengan belajar yang giat,
mengerjakakan tugas tepat pada waktunya, dan tidak ada lagi membuang waktu
dengan sia-sia. Bila hal tersebut dilaksanakan tepat pada waktunya tentunya
tidak ada lagi mahasiswa yang merasa bahwa tugas kuliah merupakan suatu hal
yang menjadi beban dalam kegiatan perkuliahan itu sendiri.
Motivasi belajar adalah keseluruhan daya
penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin
kelangsungan dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan
yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
Motivasi
memegang peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar bagi mahasiswa,
mempengaruhi intensitas kegiatan belajar, dan motivasi dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dengan belajar. Semakin tinggi tujuan belajar maka akan semakin besar pula motivasinya, dan semakin
besar motivasi belajarnya akan semakin kuat pula kegiatan belajarnya.
Dalam
khotbah Sang Buddha yang terdapat dalam Bhaddekaratta Sutta hal
yang yang dapat diterapkan dalam diri mahasiswa, hendaknya mahasiswa memiliki
satu kemelekatan yang bertujuan yang baik yaitu kemelekatan pada belajar.
Kemelekatan untuk memberikan motivasi dalam diri, dan melakukan hal-hal yang
terbaik yang bisa dilakukan pada saat ini.
Referensi:
Nanamoli, dan Boddhi. Majjhima Nikaya. Terjemahan oleh Wena
Cintiawati, dan Lanny Anggawati. 2006: Vihara Boddhivamsa Wisma Dhammaguna.
Suryabrata, Sumardi. 1984. Psikologi Pendidikani. Jakarta:
Rajawali
Syah, Muhibbin.
1995. Psikologi Pendidikan dengan
Pendekatan terbaru. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
IKUTI BERITA & ARTIKEL BUDDHIS LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Posting Komentar untuk "Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Mahasiswa Melalui Penerapan Bhaddekaratta Sutta"
Posting Komentar