Pendekatan Pengajaran Konstruktivise Analisa Lohicca Sutta
![]() |
Ilustrasi: Buddhis Media |
Pendekatan Pengajaran Konstruktivise Analisa Lohicca Sutta
Bila kita lihat dari perkembangan pendidikan kaitannya dengan dengan pengajaran, dikenal dengan paradigma. Terdapat dua paradigma dalam pendekatan pengajaran yaitu paradigma absolutisme dan paradigma konstrutivisme. Sedikit demi sedikit paradigma lama yang sering disebut sebagai paradigma absolutisme dirasa kurang cocok berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli pendidikan. Dalam paradigma pendidikan absolutisme siswa dianggap sebagai botol kosong. Kegiatan siswa datang, mendengar, mencatat, dan menghafal apa yang disampaikan oleh guru. Dalam evaluasi hasil belajar juga hanya ada satu jawaban yang dinyatakan benar yaitu jawaban yang sesuai dengan penjelasan guru. Hal tersebut dirasa kurang tepat dalam perkembangan era sekarang.
Dalam pandangan prinsip
psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan
kepada siswa, tetapi siswa yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran
mereka. Tokoh yang berperan pada teori ini adalah Jean Piaget dan Vygotsky. Dari
tokoh tersebut yang menjadi awal mula sejarah perkembangan teori konstruktivisme.
Paradigma konstruktivisme memiliki dampak yang berbeda dengan paradigma
absolutisme dalam pembelajaran IPA. Materi pembelajaran, menurut paradigma
konstruktivisme, haruslah ditetapkan oleh guru dan siswa dengan menyesuaikan
kebutuhan siswa. Pedagoginya berbentuk proses memfasilitasi agar proses
konstruksi pengetahuan siswa berjalan dengan baik. Dengan demikian, kegiatan
evaluasi adalah proses penilaian proses dari awal hingga akhir proses belajar. Paradigma konstruktivisme mengakui siswa
telah memiliki pengetahuan-pengetahuannya sendiri sebelum ia mempelajari
sesuatu. Pengetahuan ini disebut sebagai pengetahuan awal siswa. Tugas guru
adalah memfasilitasi siswa untuk membangun pengetahuan awal tersebut sehingga
dapat membentuk pengetahuan yang baru.
Dalam khotbah Sang Buddha yang terdapat dalam Digha Nikaya, Lohica Sutta terdapat
poin-poin yang menjelaskan tentang guru yang layak di cela (buruk) dan guru
yang tidak patut dicela (buruk). Khotbah ini dibabarkan ketika Sang Buddha
sedang mengunjungi Kosala bersama lima ratus bhikkhu, dan, sampai di Salavatika, Beliau menetap disana. Dan pada
saat itu, Brahmana Lohicca sedang menetap di Salavatika, tempat yang ramai,
banyak rumput, kayu, air, dan jagung, yang di anugrahkan kepadanya oleh Raja
Pasenadi dari Kosala sebagai anugrah kerajaan lengkap dengan kekuasaan
kerajaan. Adapun
poin-poin dalam Lohicca Sutta yaitu,
sebagai berikut:
Tiga jenis guru yang layak dicela (buruk)
- Guru yang mengajarkan suatu ajaran namun muridnya mencela dan mencemooh karena belum mencapai. Hal ini bagaikan seorang laki-laki yang terus menerus mendekati seorang perempuan yang menolaknya dan merangkulnya walaupun ia telah berpaling.
- Guru belum mencapai namun murid-muridnya mendengarkan dan memperhatikan nasihat-nasihatnya dan berusaha untuk mencapai kesucian. Hal ini bagaikan, meninggalkan ladangnya sendiri, ia memikirkan lading orang lain yang perlu dikerjakan.
- Guru telah mencapai, namun murid-muridnya tidak menghiraukan ketika ia mengajar. Hal ini bagaikan, setelah memotong satu belenggu lama, seseorang membuat sebuah belenggu baru.
Tiga jenis guru yang tidak patut dicela (baik)
- Seseorang Sammasangbuddha yang dapat menuntun muridnya memiliki sifat-sifat seperti Beliau.
- Guru yang dapat menuntun muridnya hingga mencapai tingkatan jhana-jhana.
- Guru yang dapat menuntun muridnya hingga mencapai tingkat kesucian.
Dari khotbah Sang Buddha tersebut dapat memberikan uraian
tentang pengajaran yang berpusat pada siswa dan konstruktivis. Hal ini dapat kita lihat dari poin yang pertama
bagamana seorang guru yang layak dicela (buruk), bila kita analisa seorang guru
yang buruk tidak melihat kebutuhan siswa itu sendiri. Seorang guru hanya mengajar apa yang ia tahu, hal itu tercermin dalam
ciri yang pertama. Hal tersebut mungkin saja terjadi dalam pendidikan di suatu
negara apabila penerimaan guru tidak dilakukan secara professional. Ketika
seorang guru hanya sebatas mengajar dan menyampaikan materi maka kualitas
pendidikan kurang maksimal. Seharusnya seorang guru ketika mampu mengajar harus
mampu mempraktekkan apa yang mereka ajarkan dalam materi tersebut.
Bila kita lihat dari poin yang ke dua dari Lohicca Sutta bagaimana seorang guru
yang tidak patut dicela (baik). Terlihat jelas sesuai dengan pembelajaran yang
berpusat pada siswa dan mengacu pada paradigma
konstruktivis seorang guru yang baik hendaknya melihat karakter siswa, dan melihat
pula kebutuhan siswa. Setelah mengerti karakter dan kebutuhan siswa baru lah
bisa menerapkan pembelajaran yang sesuai. Begitu pula Sang Buddha ketika
mengajar kepada para siswa, Sang Buddha hanya mengajarkan apa yang dilakukan
dan dipraktekkan. Apa yang Beliau katakan itulah yang Beliau lakukan, dan apa
yang beliau lakukan itulah yang Beliau
katakan.
Hal lain yang pantut dipelajari sebagai
seorang guru maupun sebagai tenaga pendidik, dapat kita temukan dalam khotbah
Sang Buddha yang ada dalam Sigalaka
Sutta, Digha Nikaya. Berikut merupakan tugas seorang guru terhadap murid:
- Memberikan instruksi yang menyeluruh. Selain memahami siswa sebagai langkah utama dalam mengembangkan pendidikan yang sesuai kebutuhan, dalam memberikan pentunjuk seharusnya yang menyeluruh. Ketika petunjuk telah diberikan dengan baik maka seorang siswa dalam menerima pelajaran pun telah dalam keadaan yang siap belajar.
- Memastikan mereka menangkap apa yang seharusnya mereka tangkap. Hal yang ke dua ini perlu diperhatikan pula, seorang guru hendaknyabenar-menar mampu mengetahui sampai sejauh mana pemahaman siswa telah dicapai.
- Memberikan landasan menyeluruh terhadap semua keterampilan. Landasan yang menyeluruh pun hendaknya harus diperhatikan pula, keterampilan pun sangat dibutuhkan dalam rangka menambah nilai plus dalam sebuah pendidikan sebagai pengembangan bakat dan karakter siswa.
- Merekomendasikan murid-murid mereka kepada teman dan rekan mereka. Ketika proses pembelajran telah selesai hendaknya pergaulan dalam lingkungan sekolah pun diperhatikan. Seorang guru sebagai teladan memberikan arahan yang baik pula dalam pergaulan.
- Memberikan keamanan di segala penjuru. Keamanan dalam lingkungan pendidikan pun sangat memegang peranan yang sangat penting. Melihan kenyamanan siswa dalam belajar tentunya sangat mendudkung siswa dalam menerima pengetahuan itu sendiri.
Dari uraian di atas dapat kita maknai bahwa menjadi guru
pun memiliki tugas yang harus di lakukan, dan rambu-rambu yang seharusnya
diperhatikan. Kaitannya dengan pembelejaran yang berpusat pada siswa adalah
seorang guru tidak lagi menjadi pusat dari pengetahuan itu sendiri akan tetapi
lebih ke arah sebagai fasilitator. Fasilitator pun lebih mengarah pada paradigma konstruktivisme pembelajaran
yang modern memahami bahwa siswa
memiliki pengetahuan yang harus dikonstruksikan.
Jadi, sebagai seorang guru hendaknya memperhatikan karakter siswa dan memahami kebutuhan
siswa dalam pendidikan. Dalam khotbah Sang Buddha yang terdapat dalam Lohicca Sutta telah dijelaskan bagaimana
seharusnya menjadi guru yang baik dan mengarah pada pembelajaran yang modern yang berpusat pada siswa dan kontruktivis dengan cara memberikan
teladan yang baik dan memahami tugas-tugas seorang guru.
Referensi:
Digha Nikaya:
The long Discourses of The Buddha A
Trsanslation. 2009. Terjemahan oleh Team Giri Mangala Publication dan Team
DhammaCitta Press: DhammaCitta Press.
Djamarah, Syaiful Bahri, dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta.
Suparno, Paul. 1996. Filsafat
Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta. Kanisius.
Jurnal Pendekatan Konstruktivisme dalam Pengajaran.
IKUTI BERITA & ARTIKEL BUDDHIS LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Posting Komentar untuk "Pendekatan Pengajaran Konstruktivise Analisa Lohicca Sutta"
Posting Komentar