Pendekatan Pengajaran Konstruktivis Analisa Lohicca Sutta.

Artikel Buddhis. Dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa, sangatlah penting untuk mengadopsi metode pembelajaran yang sesuai untuk pencapaian tujuan pembelajaran, dengan melakukan pergeseran dari teaching centered ke learning centered. Teaching centered merupakan pembelajaran yang berpusat pada guru artinya segala sumber pembelajaran berpusat pada guru. Berbeda dengan learning centered, sumber pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru artinya segala sesuatu dapat dijadikan sebagai sumber belajar termasuk siswa pun sebagai sumber belajar. Peran guru dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran guru sebagai fasilitator. Yang dimaksudkan guru sebagai fasilitator disini guru tidak lagi sebagai pusat informasi akan tetati lebih ke arah yang menuju siswa aktif. Pendidikan yang berpusat pada siswa di anggap dapat mengembangkan potensi-potensi dan meningkatkan cara berfikir siswa untuk lebih kritis.

Bila kita lihat dari perkembangan pendidikan kaitannya dengan dengan pengajaran, dikenal dengan paradigma. Terdapat dua paradigma dalam pendekatan pengajaran yaitu paradigma absolutisme dan paradigma konstrutivisme. Sedikit demi sedikit paradigma lama yang sering disebut sebagai paradigma absolutisme dirasa kurang cocok berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli pendidikan. Dalam paradigma pendidikan absolutisme siswa dianggap sebagai botol kosong. Kegiatan siswa datang, mendengar, mencatat, dan menghafal apa yang disampaikan oleh guru. Dalam evaluasi hasil belajar juga hanya ada satu jawaban yang dinyatakan benar yaitu jawaban yang sesuai dengan penjelasan guru. Hal tersebut dirasa kurang tepat dalam perkembangan era sekarang.

Dalam pandangan prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka. Tokoh yang berperan pada teori ini adalah Jean Piaget dan Vygotsky. Dari tokoh tersebut yang menjadi awal mula sejarah perkembangan teori konstruktivisme. Paradigma konstruktivisme memiliki dampak yang berbeda dengan paradigma absolutisme dalam pembelajaran IPA. Materi pembelajaran, menurut paradigma konstruktivisme, haruslah ditetapkan oleh guru dan siswa dengan menyesuaikan kebutuhan siswa. Pedagoginya berbentuk proses memfasilitasi agar proses konstruksi pengetahuan siswa berjalan dengan baik. Dengan demikian, kegiatan evaluasi adalah proses penilaian proses dari awal hingga akhir proses belajar. Paradigma konstruktivisme mengakui siswa telah memiliki pengetahuan-pengetahuannya sendiri sebelum ia mempelajari sesuatu. Pengetahuan ini disebut sebagai pengetahuan awal siswa. Tugas guru adalah memfasilitasi siswa untuk membangun pengetahuan awal tersebut sehingga dapat membentuk pengetahuan yang baru.

Dalam khotbah Sang Buddha yang terdapat dalam Digha Nikaya, Lohica Sutta terdapat poin-poin yang menjelaskan tentang guru yang layak di cela (buruk) dan guru yang tidak patut dicela (buruk). Khotbah ini dibabarkan ketika Sang Buddha sedang mengunjungi Kosala bersama lima ratus bhikkhu, dan, sampai di Salavatika, Beliau menetap disana. Dan pada saat itu, Brahmana Lohicca sedang menetap di Salavatika, tempat yang ramai, banyak rumput, kayu, air, dan jagung, yang di anugrahkan kepadanya oleh Raja Pasenadi dari Kosala sebagai anugrah kerajaan lengkap dengan kekuasaan kerajaan. Adapun poin-poin dalam Lohicca Sutta yaitu, sebagai berikut:

Tiga jenis guru yang layak dicela (buruk)
  1. Guru yang mengajarkan suatu ajaran namun muridnya mencela dan mencemooh karena belum mencapai. Hal ini bagaikan seorang laki-laki yang terus menerus mendekati seorang perempuan yang menolaknya dan merangkulnya walaupun ia telah berpaling.
  2. Guru belum mencapai namun murid-muridnya mendengarkan dan memperhatikan nasihat-nasihatnya dan berusaha untuk mencapai kesucian. Hal ini bagaikan, meninggalkan ladangnya sendiri, ia memikirkan lading orang lain yang perlu dikerjakan.
  3. Guru telah mencapai, namun murid-muridnya tidak menghiraukan ketika ia mengajar. Hal ini bagaikan, setelah memotong satu belenggu lama, seseorang membuat sebuah belenggu baru.
Tiga jenis guru yang tidak patut dicela (baik)
  1. Seseorang Sammasangbuddha yang dapat menuntun muridnya memiliki sifat-sifat seperti Beliau.
  2. Guru yang dapat menuntun muridnya hingga mencapai tingkatan jhana-jhana.
  3. Guru yang dapat menuntun muridnya hingga mencapai tingkat kesucian.
Dari khotbah Sang Buddha tersebut dapat memberikan uraian tentang pengajaran yang berpusat pada siswa dan konstruktivis. Hal ini dapat kita lihat dari poin yang pertama bagamana seorang guru yang layak dicela (buruk), bila kita analisa seorang guru yang buruk tidak melihat kebutuhan siswa itu sendiri. Seorang guru hanya mengajar  apa yang ia tahu, hal itu tercermin dalam ciri yang pertama. Hal tersebut mungkin saja terjadi dalam pendidikan di suatu negara apabila penerimaan guru tidak dilakukan secara professional. Ketika seorang guru hanya sebatas mengajar dan menyampaikan materi maka kualitas pendidikan kurang maksimal. Seharusnya seorang guru ketika mampu mengajar harus mampu mempraktekkan apa yang mereka ajarkan dalam materi tersebut.

Bila kita lihat dari poin yang ke dua dari Lohicca Sutta bagaimana seorang guru yang tidak patut dicela (baik). Terlihat jelas sesuai dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan mengacu pada paradigma konstruktivis seorang guru yang baik hendaknya melihat karakter siswa, dan melihat pula kebutuhan siswa. Setelah mengerti karakter dan kebutuhan siswa baru lah bisa menerapkan pembelajaran yang sesuai. Begitu pula Sang Buddha ketika mengajar kepada para siswa, Sang Buddha hanya mengajarkan apa yang dilakukan dan dipraktekkan. Apa yang Beliau katakan itulah yang Beliau lakukan, dan apa yang beliau lakukan itulah yang  Beliau katakan.

Hal lain yang pantut dipelajari sebagai seorang guru maupun sebagai tenaga pendidik, dapat kita temukan dalam khotbah Sang Buddha yang ada dalam Sigalaka Sutta, Digha Nikaya. Berikut merupakan tugas seorang guru terhadap murid:
  1. Memberikan instruksi yang menyeluruh. Selain memahami siswa sebagai langkah utama dalam mengembangkan pendidikan yang sesuai kebutuhan, dalam memberikan pentunjuk seharusnya yang menyeluruh. Ketika petunjuk telah diberikan dengan baik maka seorang siswa dalam menerima pelajaran pun telah dalam keadaan yang siap belajar.
  2. Memastikan mereka menangkap apa yang seharusnya mereka tangkap. Hal yang ke dua ini perlu diperhatikan pula, seorang guru hendaknyabenar-menar mampu mengetahui sampai sejauh mana pemahaman siswa telah dicapai.
  3. Memberikan landasan menyeluruh terhadap semua keterampilan. Landasan yang menyeluruh pun hendaknya harus diperhatikan pula, keterampilan pun sangat dibutuhkan dalam rangka menambah nilai plus dalam sebuah pendidikan sebagai pengembangan bakat dan karakter siswa.
  4. Merekomendasikan murid-murid mereka kepada teman dan rekan mereka. Ketika proses pembelajran telah selesai hendaknya pergaulan dalam lingkungan sekolah pun diperhatikan. Seorang guru sebagai teladan memberikan arahan yang baik pula dalam pergaulan.
  5. Memberikan keamanan di segala penjuru. Keamanan dalam lingkungan pendidikan pun sangat memegang peranan yang sangat penting. Melihan kenyamanan siswa dalam belajar tentunya sangat mendudkung siswa dalam menerima pengetahuan itu sendiri.
Dari uraian di atas dapat kita maknai bahwa menjadi guru pun memiliki tugas yang harus di lakukan, dan rambu-rambu yang seharusnya diperhatikan. Kaitannya dengan pembelejaran yang berpusat pada siswa adalah seorang guru tidak lagi menjadi pusat dari pengetahuan itu sendiri akan tetapi lebih ke arah sebagai fasilitator. Fasilitator pun lebih mengarah pada paradigma konstruktivisme pembelajaran yang modern memahami bahwa siswa memiliki pengetahuan yang harus dikonstruksikan.

Jadi, sebagai seorang guru hendaknya memperhatikan karakter siswa dan memahami kebutuhan siswa dalam pendidikan. Dalam khotbah Sang Buddha yang terdapat dalam Lohicca Sutta telah dijelaskan bagaimana seharusnya menjadi guru yang baik dan mengarah pada pembelajaran yang modern yang berpusat pada siswa dan kontruktivis dengan cara memberikan teladan yang baik dan memahami tugas-tugas seorang guru.

Referensi:
Digha Nikaya: The long Discourses of The Buddha A Trsanslation. 2009. Terjemahan oleh Team Giri Mangala Publication dan Team DhammaCitta Press: DhammaCitta Press.
Djamarah, Syaiful Bahri, dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta.
Suparno, Paul. 1996. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta. Kanisius.
Jurnal Pendekatan Konstruktivisme dalam Pengajaran.

0 Response to "Pendekatan Pengajaran Konstruktivis Analisa Lohicca Sutta."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel